Identifikasi dan Pengukuran Bakat dan Kreativitas
Dari berbagai alasan yg dikemukakan untuk mengukur bakat kreatif, 5 alasan
paling penting untuk menemukenali bakat kreatif
1. Pengayaan
Tujuan utama tes kreatif adalah untuk mengidentifikasikan bakat kreatif anak. Keberbakatan diartikan sebagai mempunyai Intelegensi (IQ) tinggi dan tes intelengesi tradisional merupakan ciri utama untuk
mengidentifikasi anak berbakat intelektual. Anak berbakat intelektual diizinkan loncat kelas atau masuk kelas khusus (advanced placement class) yg menuntut mereka harus bekerja lebih banyak dan lebih keras. Kesamaan antara Intelegensi dan talenta khusus adalah apa yg disebut precocity ( keadaan cepat menjadi matang). Precocity belum tentu berarti mencapai produktivitas yg orisinil. Kapasitas terakhir ini disebut prodigiousness . Child prodigy adalah sso yg prestasinya begitu luar
biasa dan langka sehingga menakjubkan. Sebagai contoh adalah Mozzart yg sebagai anak-anak sudah mampu mengubah simfoni yg sampai skr masih sering dimainkan di orkes. Anak prodigy tanpa kecuali pasti kreatif, sementara ahli matematika yg prodigious belum tentu kreatif. Sebaliknya anak
prodigious belum tentu IQ nya tinggi.
2. Remediasi
Alasan kedua untuk melakukan pengukuran adalah untuk menemukenali mereka yg kemampuan kreatifnya sangat rendah. Karena bermacam-macam sebab, anak-anak berbakat ini sangat miskin dalam imajinasi. Padahal imajinasi sangat penting untuk pemecahan masalah. Program remedial dalam kreativitas masih sangat langka, bahkan di Indonesia rasanya belum ada. Salah satu sebab karena kita kurang mengetahui bagaimana melakukan hal ini
3. Bimbingan Kejuruan
Penggunaan tes kreativitas untuk membantu siswa memilih jurusan pendidikan dan karier masih pada tahap awal. Meskipun demikian informasi mengenai kemampuan ini berguna dalam menyarankan siswa mengikuti pendidikan dan kejuruan yg memuntut kemampuan kreatif.
4. Evaluasi Pendidikan
Pendidik sering mengalami kesulitan untuk memutuskan apakah sekolah akan menggunakan program pengembangan kreativitas. Mereka khawatir hal itu dapat menyebabkan menurunya prestasi belajar siswa.
Sayangnya kurangnya evaluasi hasil pendidikan menyulitkan untuk menentukan apakah programnya efektif atau tidak.
5. Pola perkembangan kreatif
Pakar psikologi tertarik untuk mengetahui pola perkembangan kreativitas karena 2 alasan, yg pertama mereka ingin mengetahui bagaimana pertumbuhan dan penurunan kreativitas pada macam2 tipe orang, dan kedua mereka ingin mengetahui apakah ada masa puncak dimana
kreativitas sebaiknya dilatih
Tujuan penggunaan Tes Kreativitas
1. Identifikasi Anak Berbakat Kreatif
Dalam seleksi siswa kreatif untuk mendapat tingkat kepercayaan yg tinggi, sebaiknya menggunakan dua sumber untuk mengukur kreativitas. Misalnya dengan tes kreativitas tapi juga dengan penilaian dari guru mengenai tingakt kreativitas anak
2. Penelitian
Penelitian membantu kita memahami perkembangan kreativitas. Tes kreativitas dalam penelitian dapat digunakan dg 2 cara, pertama untuk mengidentifikasi orang2 kreatif dan membandingkan mereka dengan orang2 biasa, kedua, tes kreativitas dalam penelitian dapat digunakan untuk menilai dampak pelatihan kreativitas terhadap kekreatifan peserta.
3. Konseling
Tes kreativitas dapat juga digunakan untuk bimbingan dan konseling siswa. Konselor atau psikolog sekolah di sekolah dasar dan menengah memerlukan informasi mengenai seorang siswa yg dikirim karena siakpnyayg apatis, tidak kooperatif, berprestasi kurang, atau karena ada masalah lain.
Tes yang mengukur Ciri Kepribadian Kreatif
1. Tes mengajukan pertanyaan
2. Tes Risk Taking, digunakan untuk menunjukan dampak pengambilan resiko terhadap kreativitas
3. Tes Figure preference yang menunjukan preferensi untuk ketidakaturan sebagai salah satu ciri kepribadian kreatif
4. Tes Sex Role Identity untuk mengukur sejauh mana sso mengidentifikasikan diri
5. Dengan peran jenis kealmin, alat yg digunakan di Indonesia adalah Bem Sex Role Inventory
Untuk mengukur kemampuan intelektual umum, tes individual lebih cermat, tetapi lebih banyak makan waktu dan biaya. Yang sudah digunakan di Indonesia adalah tes Stanford-Binet dan WISC. Tes intelegensi kelompok lebih efisien dalam ukuran waktu dan biaya, keterbatasannya dalah tidak diketahuinya apakah prestasi anak sudah optimal.
Tes Potensi Akademik yg khusus dirancang untuk Indonesia dapat digunakan untuk menemukenali bakat akademik, misalnya sejauh mana sso mampu mengikuti pendidikan tersier
Beberapa tes dari luar negeri yg mengukur kreativitas adalah tes Guliford yg mengukur kemampuan berpikir divergen dan konvergen, tes Torrance juga untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif. Tes yg lebih baru adalah Tes Berpikir Kreatif-Produksi Menggambar dari Jellen dan Urban ( 1985)
Tes yg pertama di kontruksikan untuk Indonesia adalah tes Kreativitas Verbal (Utami Munandar) mengukur kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan elaborasi dalam berpikir.
Tes Kreatif Figural diadaptasi dari Torrance Circles Tets distandarisasi untuk anak usia 10-18 tahun oleh Fakultas Psikologi UI. TKF kecuali mengukur aspek kreativitas tersebut di muka juga mengukur kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi unsur2 yg diberikan Teknik-teknik yang Diperlukan dalam Mengembangkan Kreativitas
1. Melakukan pendekatan “inquiry” (pencaritahuan). Pendekatan yang memungkinkan siswa menggunakan semua proses mental untuk menemukan konsep atau prinsip ilmiah.
2. Menggunakan teknik-teknik sumbang saran (brainstroming). Didalam pendekatan ini suatu masalah dikemukakan dan siswa diminta untuk mengemukakan gagasan-gagasannya.
3. Memberikan penghargaan bagi prestasi kreativ. Penghargaan yang diterima anak akan mempengaruhi konsep diri secara positif yang meningkatkan keyajinan diri siswa.
4. Meningkatkan pemikiran kreatif melalui banyak media. Sasaran pendidikan dan kurikulum perlu dianalisa untuk mengetahui fungsi – fungsi mental apa yang akan dituju dalam pendidikan.
Contoh Kasus Bakat :
Mengidentifikasi Lima Bidang Bakat Khusus Bidang-bidang keberbakatan dapat diidetifikasi sebagai berikut :
1. Bakat akademik khusus.
Dalam mengidentifikasi bakat akademik khusus, seorang guru dapat menggunakan tes prestasi akademik.Tes prestasi akademik bertujuan mengukur pembelajaran, pengetahuan tentang fakta, prinsip dan kemampuan untuk menerapkannya dalam situasi sehari-hari( Munandar,1999).
2. Bakat Kreatif.
Alat untuk mengidentifikasi bakat kreatif yang berlaku di Indonesia diantaranya kreativitas verbal.Tes ini terdiri enam sub tes yang mengukur dimensi berfikir.Setiap sub tes mengukur aspek yang berbeda dari berpikir kreatif.
3. Bakat Seni.
Mengenali bakat seni bergantung pada metode observasi yang di nilai oleh ahli dalam bidang seni.
4. Bakat Psikomotor.
Kemampuan psikomotor tidak hanya diperlukan dalam berolahraga namun juga berbagai kegiatan lain seperti memainkan alat music dan drama, menari, dan sebagainya.
5. Bakat Sosial.
Bakat Sosial didefinisikan Marlan (Munandar, 1999) sebagai bakat kepemimpinan yng tidak hanya mencakup kemampuan intelektual, tetapi juga kepribadian.
Pembelajaran Bakat Khusus
1. Pengembangan Bakat Sains (IPA)
Karakteristik siswa berbakat sains antara lain: kepekaan terhadap masalah, kemampuan untuk mengembangkan gagasan baru , kemampuan untuk menilai kemampuan mekanikal tinggi, ketekunan, semangat, kemampuan visual spasial, kemampuan untuk mengkomunikasikan, keuletan, dan pencetus ide.
2. Pengembangan Bakat Matematika
Karakteristik siswa berbakat dalam bidang matematika adalah fleksibilitas dalam mengolah data, kemampuan luar biasa untuk menyusun data, ketangkasan mental, penafsiran yang orisinil, kemampuan luar biasa untuk mengalihkan gagasan dan kemampuan luar biasa untuk generalisasi.
3. Pengembangan Bakat Bahasa
Karakteristik siswa bebakat bahasa adalah: mempunyai ingatan yang luar biasa, belajar membaca sendiri pada usia dini, mempunyai perbendaharaan kata yang luas, dapat memecahkan masalah dengan cara yang majemuk, mempunyai jangkauan perhatian yang luas, mempunyai rasa humor seperti orang dewasa, memberikan pendapatnya diminta atau tidak, bicara terus-menerus, selalu mengajukan pertanyaan, memahami buku, film, dan diskusi pada tingkat tinggi, serta mengajukan beberapa pemecahan untuk masalah yang sama.
4. Pengembangan Bakat IPS
Karakteristik siswa berbakat dalam IPS adalah: pemahaman konsep tua yang lebih maju dari anak seusianya, memiliki gudang pengetahuan yang baru dan sangat spesifik, menyukai tugas yang sulit atau majemuk, menentukan standar tinggi untuk proyek mandiri, dianggap sebagai sumber pengetahuan dan gagasan baru oleh teman, pengelola kelompok, menggunakan humor dalam berelasi, menceritakan atau menulis cerita imajinatif, mempunyai minat luas dan sangat terfokus, cepat menyerap pengetahuan, pembaca yang intensif, ekstensif, dan maju (dua tingkat diatas kelasnya), melihat hubungan yang tidak dilihat orang lain, berfantasi jika sedang bosan dan memiliki kepekaan sosial (minat yang sungguh-sungguh terhadap orang dan terhadap akibat interaksi sosial, serta menghargai gagasan dan nilai susila orang lain.
Contoh Kasus Berbakat
Dino Putra (22) adalah seorang mahasiswa Teknik Sipil di sebuah Universitas Negeri di Jakarta. Ia sekarang duduk di tingkat 3, semester 6. IPK nya cenderung menengah ke bawah, pas-pas makan istilah teman-temannya. Semangat belajarnya pun senin kamis, aras-arasan, atau dengan kata lain
tergantung moodnya. Padahal jurusan teknik sipil adalah pilihannya, denganseleksi yang ketat, ia berhasil masuk ke sebuah Universitas bergengsi di kotanya. Tak main-main, ia berhasil menduduki peringkat 3 dari ratusan saingannya. Ketika itu, banyak yang menyangka, Dino akan menjadi mahasiswa brilian dengan prestasi akademik yang bagus. Betapa tidak, sejak masih di bangku sekolah, Dino pun terkenal karena prestasi akademiknya yang memukau. Ia sering mengharumkan nama sekolahnya dengan berbagai medali olimpiade yang dimenangkannya. Mulai olimpiade fisika, matematika maupun kimia. Maka tak heran, banyak yang memprediksi dan menaruh harapan besar bahwa Dino nantinya akan menjadi ahli Teknik yang handal, ketika ia memilih Teknik menjadi jurusannya. Bahkan, jurusan teknik sipil ini sebenarnya adalah rekomendasi dari salah seorang guru fisika yang dekat dengannya “ Ia akan menjadi insyinyur yang sangat berbakat”, begitu kata gurunya. Maka Dino pun memilih jurusan ini. Namun, kenyataanya berbalik sempurna ketika ia masuk jurusan tersebut. Ia bukanlah Dino siswa yang cemerlang, melainkan menjadi Dino mahasiswa pemalas, tak ada semangat, dan terancam droup out. Yang anehnya, Dino tampak sangat antusias jika ia mengutak-atik komputer. Pun ketika ia menjelajah di dunia Internet, ia sangat menikmatinya. Bahkan, sekarang ini Dino menjadi operator di sebuah warnet terbesar di kotanya, suatu pekerjaan yang sangat bertolak belakang dengan kuliahnya. Apa yang terjadi? Apakah pelajarannya terlalu rumit untuk Dino yang cerdas atau Dino telah menjadi mahasiswa salah jurusan?
Jawab :
Dalam kasus Dino ada beberapa hal yang menjadi penyebab atau akar dari masalahnya. Beberapa hal itu adalah bakat, minat dan kepribadian dari Dino. Kita bisa melihat bahwa Dino sebenarnya memilki potensi yang besar untuk meraih kesuksesannya. Potensi itu adalah kecerdasannya yang terbukti
dari prestasi-prestasi akademik yang diperolehnya. Jika memakai istilah ekonomi, Dino telah memilki “modal” yang cukup untuk masa depannya. Pun ketika kita melihat sekilas, Dino telah memilki bakat yang menonjol dalam bidang eksakta. Banyak alternatif yang membutuhkan bakat dalam bidang
tersebut, antara lain kedokteran, teknik, MIPA dan lain sebagainya. Termasuk teknik sipil yang sedang digelutinya saat ini. Namun, “gagal”adalah kata yang cocok untuk melaporkan hasil studinya. Apakah Dino tidak memiliki bakat? Sepertinya ia punya bakat yang dibutuhkan dalam studinya, tapi ada satu hal penting yang harus ada dalam semua pekerjaan atau aktivitas apapun, yakni kemauan atau bahasa lainnya adalah minat.
Contoh kasus Kreativitas
Tiara ( 12 tahun ) adalah seorang anak yang dibesarkan di lingkungan polisi, ayah, kakek dan salah satu pamannya adalah anggota polisi dan ibunya seorang guru. Mereka tinggal di kompleks polisi. Tiara dididik oleh ayahnya dengan disiplin yang tinggi, makan, tidur, main harus teratur. Tiara tumbuh menjadi anak yang pendiam, patuh dan sangat menurut pada orangtuanya terutama ayahnya. Ketika usia Taman Kanak-kanak, gurunya mengatakan bahwa Tiara adalah anak yang sangat baik, tidak pernah mengganggu temannya, selalu duduk dengan manis, tidak suka berlari-lari dan jika mengerjakan tugas pasti hasilnya akan hampir sama persis dengan contoh yang diberikan oleh gurunya dan dia selalu mendapat nilai yang bagus. Namun untuk kegiatan menggambar bebas Tiara tidak menghasilkan apa-apa. dia selalu mengatakan “ tidak bisa “ karena tidak ada contohnya. Demikian pula jika bermain bebas, maka Tiara hanya akan duduk diam menyaksikan teman-temannya bermain. Ibu gurunya mengatakan bahwa Tiara tidak kreatif . Hal ini berlangsung terus hingga Tiara duduk di bangku Sekolah Dasar.
Ketika duduk di SD kelas IV, Ibunya menemukan beberapa tulisan tangan Tiara pada beberapa buku pelajarannya di halaman terakhir. Tulisan itu berupa puisi maupun cerita sehari-hari yang dialami oleh Tiara sendiri. Kemudian tulisan ini dikumpulkan dan dijadikan buku kecil. Salah satu tulisan itu dikirimkan ke majalah dan ternyata dimuat. Kebanyakan puisinya berisi kekagumannya pada ibunya dan keluh kesah serta keinginannya untuk bebas seperti alam. Saat ini Tiara sudah di SMP, tulisan-tulisannya sering dimuat di madding (majalah dinding ) sekolah. Tiara tetap merupakan anak pendiam yang cenderung pasif namun dia terus menulis. Namun dia tidak mau jika harus tampil sendiri di depan orang banyak, makanya dia tidak mau jika tulisannya diikut sertakan dalam lomba.
Daftar Pustaka
http://11065ahs.blogspot.co.id/2013/09/identifikasi-dan- pengukuran-bakat-
dan_7035.html
http://faceblog-riekha.blogspot.co.id/2012/11/contoh- studi-kasus- bakat-dan-
intelegensi.html
http://mychildworlds.blogspot.co.id/2009/01/kreativitas-anak- penurut.html
paling penting untuk menemukenali bakat kreatif
1. Pengayaan
Tujuan utama tes kreatif adalah untuk mengidentifikasikan bakat kreatif anak. Keberbakatan diartikan sebagai mempunyai Intelegensi (IQ) tinggi dan tes intelengesi tradisional merupakan ciri utama untuk
mengidentifikasi anak berbakat intelektual. Anak berbakat intelektual diizinkan loncat kelas atau masuk kelas khusus (advanced placement class) yg menuntut mereka harus bekerja lebih banyak dan lebih keras. Kesamaan antara Intelegensi dan talenta khusus adalah apa yg disebut precocity ( keadaan cepat menjadi matang). Precocity belum tentu berarti mencapai produktivitas yg orisinil. Kapasitas terakhir ini disebut prodigiousness . Child prodigy adalah sso yg prestasinya begitu luar
biasa dan langka sehingga menakjubkan. Sebagai contoh adalah Mozzart yg sebagai anak-anak sudah mampu mengubah simfoni yg sampai skr masih sering dimainkan di orkes. Anak prodigy tanpa kecuali pasti kreatif, sementara ahli matematika yg prodigious belum tentu kreatif. Sebaliknya anak
prodigious belum tentu IQ nya tinggi.
2. Remediasi
Alasan kedua untuk melakukan pengukuran adalah untuk menemukenali mereka yg kemampuan kreatifnya sangat rendah. Karena bermacam-macam sebab, anak-anak berbakat ini sangat miskin dalam imajinasi. Padahal imajinasi sangat penting untuk pemecahan masalah. Program remedial dalam kreativitas masih sangat langka, bahkan di Indonesia rasanya belum ada. Salah satu sebab karena kita kurang mengetahui bagaimana melakukan hal ini
3. Bimbingan Kejuruan
Penggunaan tes kreativitas untuk membantu siswa memilih jurusan pendidikan dan karier masih pada tahap awal. Meskipun demikian informasi mengenai kemampuan ini berguna dalam menyarankan siswa mengikuti pendidikan dan kejuruan yg memuntut kemampuan kreatif.
4. Evaluasi Pendidikan
Pendidik sering mengalami kesulitan untuk memutuskan apakah sekolah akan menggunakan program pengembangan kreativitas. Mereka khawatir hal itu dapat menyebabkan menurunya prestasi belajar siswa.
Sayangnya kurangnya evaluasi hasil pendidikan menyulitkan untuk menentukan apakah programnya efektif atau tidak.
5. Pola perkembangan kreatif
Pakar psikologi tertarik untuk mengetahui pola perkembangan kreativitas karena 2 alasan, yg pertama mereka ingin mengetahui bagaimana pertumbuhan dan penurunan kreativitas pada macam2 tipe orang, dan kedua mereka ingin mengetahui apakah ada masa puncak dimana
kreativitas sebaiknya dilatih
Tujuan penggunaan Tes Kreativitas
1. Identifikasi Anak Berbakat Kreatif
Dalam seleksi siswa kreatif untuk mendapat tingkat kepercayaan yg tinggi, sebaiknya menggunakan dua sumber untuk mengukur kreativitas. Misalnya dengan tes kreativitas tapi juga dengan penilaian dari guru mengenai tingakt kreativitas anak
2. Penelitian
Penelitian membantu kita memahami perkembangan kreativitas. Tes kreativitas dalam penelitian dapat digunakan dg 2 cara, pertama untuk mengidentifikasi orang2 kreatif dan membandingkan mereka dengan orang2 biasa, kedua, tes kreativitas dalam penelitian dapat digunakan untuk menilai dampak pelatihan kreativitas terhadap kekreatifan peserta.
3. Konseling
Tes kreativitas dapat juga digunakan untuk bimbingan dan konseling siswa. Konselor atau psikolog sekolah di sekolah dasar dan menengah memerlukan informasi mengenai seorang siswa yg dikirim karena siakpnyayg apatis, tidak kooperatif, berprestasi kurang, atau karena ada masalah lain.
Tes yang mengukur Ciri Kepribadian Kreatif
1. Tes mengajukan pertanyaan
2. Tes Risk Taking, digunakan untuk menunjukan dampak pengambilan resiko terhadap kreativitas
3. Tes Figure preference yang menunjukan preferensi untuk ketidakaturan sebagai salah satu ciri kepribadian kreatif
4. Tes Sex Role Identity untuk mengukur sejauh mana sso mengidentifikasikan diri
5. Dengan peran jenis kealmin, alat yg digunakan di Indonesia adalah Bem Sex Role Inventory
Untuk mengukur kemampuan intelektual umum, tes individual lebih cermat, tetapi lebih banyak makan waktu dan biaya. Yang sudah digunakan di Indonesia adalah tes Stanford-Binet dan WISC. Tes intelegensi kelompok lebih efisien dalam ukuran waktu dan biaya, keterbatasannya dalah tidak diketahuinya apakah prestasi anak sudah optimal.
Tes Potensi Akademik yg khusus dirancang untuk Indonesia dapat digunakan untuk menemukenali bakat akademik, misalnya sejauh mana sso mampu mengikuti pendidikan tersier
Beberapa tes dari luar negeri yg mengukur kreativitas adalah tes Guliford yg mengukur kemampuan berpikir divergen dan konvergen, tes Torrance juga untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif. Tes yg lebih baru adalah Tes Berpikir Kreatif-Produksi Menggambar dari Jellen dan Urban ( 1985)
Tes yg pertama di kontruksikan untuk Indonesia adalah tes Kreativitas Verbal (Utami Munandar) mengukur kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan elaborasi dalam berpikir.
Tes Kreatif Figural diadaptasi dari Torrance Circles Tets distandarisasi untuk anak usia 10-18 tahun oleh Fakultas Psikologi UI. TKF kecuali mengukur aspek kreativitas tersebut di muka juga mengukur kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi unsur2 yg diberikan Teknik-teknik yang Diperlukan dalam Mengembangkan Kreativitas
1. Melakukan pendekatan “inquiry” (pencaritahuan). Pendekatan yang memungkinkan siswa menggunakan semua proses mental untuk menemukan konsep atau prinsip ilmiah.
2. Menggunakan teknik-teknik sumbang saran (brainstroming). Didalam pendekatan ini suatu masalah dikemukakan dan siswa diminta untuk mengemukakan gagasan-gagasannya.
3. Memberikan penghargaan bagi prestasi kreativ. Penghargaan yang diterima anak akan mempengaruhi konsep diri secara positif yang meningkatkan keyajinan diri siswa.
4. Meningkatkan pemikiran kreatif melalui banyak media. Sasaran pendidikan dan kurikulum perlu dianalisa untuk mengetahui fungsi – fungsi mental apa yang akan dituju dalam pendidikan.
Contoh Kasus Bakat :
Mengidentifikasi Lima Bidang Bakat Khusus Bidang-bidang keberbakatan dapat diidetifikasi sebagai berikut :
1. Bakat akademik khusus.
Dalam mengidentifikasi bakat akademik khusus, seorang guru dapat menggunakan tes prestasi akademik.Tes prestasi akademik bertujuan mengukur pembelajaran, pengetahuan tentang fakta, prinsip dan kemampuan untuk menerapkannya dalam situasi sehari-hari( Munandar,1999).
2. Bakat Kreatif.
Alat untuk mengidentifikasi bakat kreatif yang berlaku di Indonesia diantaranya kreativitas verbal.Tes ini terdiri enam sub tes yang mengukur dimensi berfikir.Setiap sub tes mengukur aspek yang berbeda dari berpikir kreatif.
3. Bakat Seni.
Mengenali bakat seni bergantung pada metode observasi yang di nilai oleh ahli dalam bidang seni.
4. Bakat Psikomotor.
Kemampuan psikomotor tidak hanya diperlukan dalam berolahraga namun juga berbagai kegiatan lain seperti memainkan alat music dan drama, menari, dan sebagainya.
5. Bakat Sosial.
Bakat Sosial didefinisikan Marlan (Munandar, 1999) sebagai bakat kepemimpinan yng tidak hanya mencakup kemampuan intelektual, tetapi juga kepribadian.
Pembelajaran Bakat Khusus
1. Pengembangan Bakat Sains (IPA)
Karakteristik siswa berbakat sains antara lain: kepekaan terhadap masalah, kemampuan untuk mengembangkan gagasan baru , kemampuan untuk menilai kemampuan mekanikal tinggi, ketekunan, semangat, kemampuan visual spasial, kemampuan untuk mengkomunikasikan, keuletan, dan pencetus ide.
2. Pengembangan Bakat Matematika
Karakteristik siswa berbakat dalam bidang matematika adalah fleksibilitas dalam mengolah data, kemampuan luar biasa untuk menyusun data, ketangkasan mental, penafsiran yang orisinil, kemampuan luar biasa untuk mengalihkan gagasan dan kemampuan luar biasa untuk generalisasi.
3. Pengembangan Bakat Bahasa
Karakteristik siswa bebakat bahasa adalah: mempunyai ingatan yang luar biasa, belajar membaca sendiri pada usia dini, mempunyai perbendaharaan kata yang luas, dapat memecahkan masalah dengan cara yang majemuk, mempunyai jangkauan perhatian yang luas, mempunyai rasa humor seperti orang dewasa, memberikan pendapatnya diminta atau tidak, bicara terus-menerus, selalu mengajukan pertanyaan, memahami buku, film, dan diskusi pada tingkat tinggi, serta mengajukan beberapa pemecahan untuk masalah yang sama.
4. Pengembangan Bakat IPS
Karakteristik siswa berbakat dalam IPS adalah: pemahaman konsep tua yang lebih maju dari anak seusianya, memiliki gudang pengetahuan yang baru dan sangat spesifik, menyukai tugas yang sulit atau majemuk, menentukan standar tinggi untuk proyek mandiri, dianggap sebagai sumber pengetahuan dan gagasan baru oleh teman, pengelola kelompok, menggunakan humor dalam berelasi, menceritakan atau menulis cerita imajinatif, mempunyai minat luas dan sangat terfokus, cepat menyerap pengetahuan, pembaca yang intensif, ekstensif, dan maju (dua tingkat diatas kelasnya), melihat hubungan yang tidak dilihat orang lain, berfantasi jika sedang bosan dan memiliki kepekaan sosial (minat yang sungguh-sungguh terhadap orang dan terhadap akibat interaksi sosial, serta menghargai gagasan dan nilai susila orang lain.
Contoh Kasus Berbakat
Dino Putra (22) adalah seorang mahasiswa Teknik Sipil di sebuah Universitas Negeri di Jakarta. Ia sekarang duduk di tingkat 3, semester 6. IPK nya cenderung menengah ke bawah, pas-pas makan istilah teman-temannya. Semangat belajarnya pun senin kamis, aras-arasan, atau dengan kata lain
tergantung moodnya. Padahal jurusan teknik sipil adalah pilihannya, denganseleksi yang ketat, ia berhasil masuk ke sebuah Universitas bergengsi di kotanya. Tak main-main, ia berhasil menduduki peringkat 3 dari ratusan saingannya. Ketika itu, banyak yang menyangka, Dino akan menjadi mahasiswa brilian dengan prestasi akademik yang bagus. Betapa tidak, sejak masih di bangku sekolah, Dino pun terkenal karena prestasi akademiknya yang memukau. Ia sering mengharumkan nama sekolahnya dengan berbagai medali olimpiade yang dimenangkannya. Mulai olimpiade fisika, matematika maupun kimia. Maka tak heran, banyak yang memprediksi dan menaruh harapan besar bahwa Dino nantinya akan menjadi ahli Teknik yang handal, ketika ia memilih Teknik menjadi jurusannya. Bahkan, jurusan teknik sipil ini sebenarnya adalah rekomendasi dari salah seorang guru fisika yang dekat dengannya “ Ia akan menjadi insyinyur yang sangat berbakat”, begitu kata gurunya. Maka Dino pun memilih jurusan ini. Namun, kenyataanya berbalik sempurna ketika ia masuk jurusan tersebut. Ia bukanlah Dino siswa yang cemerlang, melainkan menjadi Dino mahasiswa pemalas, tak ada semangat, dan terancam droup out. Yang anehnya, Dino tampak sangat antusias jika ia mengutak-atik komputer. Pun ketika ia menjelajah di dunia Internet, ia sangat menikmatinya. Bahkan, sekarang ini Dino menjadi operator di sebuah warnet terbesar di kotanya, suatu pekerjaan yang sangat bertolak belakang dengan kuliahnya. Apa yang terjadi? Apakah pelajarannya terlalu rumit untuk Dino yang cerdas atau Dino telah menjadi mahasiswa salah jurusan?
Jawab :
Dalam kasus Dino ada beberapa hal yang menjadi penyebab atau akar dari masalahnya. Beberapa hal itu adalah bakat, minat dan kepribadian dari Dino. Kita bisa melihat bahwa Dino sebenarnya memilki potensi yang besar untuk meraih kesuksesannya. Potensi itu adalah kecerdasannya yang terbukti
dari prestasi-prestasi akademik yang diperolehnya. Jika memakai istilah ekonomi, Dino telah memilki “modal” yang cukup untuk masa depannya. Pun ketika kita melihat sekilas, Dino telah memilki bakat yang menonjol dalam bidang eksakta. Banyak alternatif yang membutuhkan bakat dalam bidang
tersebut, antara lain kedokteran, teknik, MIPA dan lain sebagainya. Termasuk teknik sipil yang sedang digelutinya saat ini. Namun, “gagal”adalah kata yang cocok untuk melaporkan hasil studinya. Apakah Dino tidak memiliki bakat? Sepertinya ia punya bakat yang dibutuhkan dalam studinya, tapi ada satu hal penting yang harus ada dalam semua pekerjaan atau aktivitas apapun, yakni kemauan atau bahasa lainnya adalah minat.
Contoh kasus Kreativitas
Tiara ( 12 tahun ) adalah seorang anak yang dibesarkan di lingkungan polisi, ayah, kakek dan salah satu pamannya adalah anggota polisi dan ibunya seorang guru. Mereka tinggal di kompleks polisi. Tiara dididik oleh ayahnya dengan disiplin yang tinggi, makan, tidur, main harus teratur. Tiara tumbuh menjadi anak yang pendiam, patuh dan sangat menurut pada orangtuanya terutama ayahnya. Ketika usia Taman Kanak-kanak, gurunya mengatakan bahwa Tiara adalah anak yang sangat baik, tidak pernah mengganggu temannya, selalu duduk dengan manis, tidak suka berlari-lari dan jika mengerjakan tugas pasti hasilnya akan hampir sama persis dengan contoh yang diberikan oleh gurunya dan dia selalu mendapat nilai yang bagus. Namun untuk kegiatan menggambar bebas Tiara tidak menghasilkan apa-apa. dia selalu mengatakan “ tidak bisa “ karena tidak ada contohnya. Demikian pula jika bermain bebas, maka Tiara hanya akan duduk diam menyaksikan teman-temannya bermain. Ibu gurunya mengatakan bahwa Tiara tidak kreatif . Hal ini berlangsung terus hingga Tiara duduk di bangku Sekolah Dasar.
Ketika duduk di SD kelas IV, Ibunya menemukan beberapa tulisan tangan Tiara pada beberapa buku pelajarannya di halaman terakhir. Tulisan itu berupa puisi maupun cerita sehari-hari yang dialami oleh Tiara sendiri. Kemudian tulisan ini dikumpulkan dan dijadikan buku kecil. Salah satu tulisan itu dikirimkan ke majalah dan ternyata dimuat. Kebanyakan puisinya berisi kekagumannya pada ibunya dan keluh kesah serta keinginannya untuk bebas seperti alam. Saat ini Tiara sudah di SMP, tulisan-tulisannya sering dimuat di madding (majalah dinding ) sekolah. Tiara tetap merupakan anak pendiam yang cenderung pasif namun dia terus menulis. Namun dia tidak mau jika harus tampil sendiri di depan orang banyak, makanya dia tidak mau jika tulisannya diikut sertakan dalam lomba.
Daftar Pustaka
http://11065ahs.blogspot.co.id/2013/09/identifikasi-dan- pengukuran-bakat-
dan_7035.html
http://faceblog-riekha.blogspot.co.id/2012/11/contoh- studi-kasus- bakat-dan-
intelegensi.html
http://mychildworlds.blogspot.co.id/2009/01/kreativitas-anak- penurut.html

Komentar
Posting Komentar