Beberapa Fakta Tentang Mimpi
Ada banyak penelitian mengenai mimpi yang dikaitkan dengan
kesehatan mental dan fisik. Berikut adalah beberapa fakta mengenai mimpi yang
dilansir dan diinterpretasikan dari beberapa referensi, dengan referensi
utama goodhousekeeping.com.
Fakta-fakta ini dikumpulkan dari berbagai hasil penelitian para ahli. Beberapa
dari anda mungkin akan memiliki ketidaksetujuan pada pandangan di dalam
fakta-fakta tersebut. Namun demikian, masihlah pantas untuk menyimak hingga
selesai.
1.
Anda bermimpi sepanjang tidur, tidak hanya pada
kondisi tidur REM (rapid eye movement).
Selama ini, diyakini bahwa kondisi dimana seseorang bermimpi
terjadi pada saat REM, atau kondisi dimana seseorang tidur dengan mata
bergerak. Mimpi dalam kondisi REM cenderung lebih jelas dan tidak nyata. Mimpi
dalam kondisi REM biasanya terjadi pada paruh malam kedua.
Jika anda bermimpi melompat keluar dari pesawat terbang,
atau tiba-tiba melihat roket di sekitar anda, kemungkinan besar itu adalah
mimpi REM. (Jerry Siegel, profesor Psikiatri dan direktur Pusat Penelitian
Tidur UCLA).
Mimpi bisa terjadi sepanjang tidur, dan anda bisa mengingat
apa yang terjadi di dalam mimpi meskipun tidak dalam kondisi keutuhan yang
sama. Mimpi yang terjadi pada tahap ketiga atau keempat pada awal malam
biasanya cenderung biasa, atau hal-hal yang berkaitan dengan diri kita secara
alamiah.
2.
Anda dapat mengingat mimpi jika terbangun pada
saat mimpi masih berlangsung.
Hal yang paling menentukan seseorang untuk bisa mengingat
suatu mimpi adalah jika dia terbangun pada saat mimpi itu masih terjadi (Mark
Mahowald, Sekolah Kedokteran Minnesota). Jika anda tidak terbangun di
tengah-tengah mimpi, kemungkinan untuk bisa mengingat isi mimpi tersebut sangat
kecil. Dalam kondisi tidur, memori mimpi terhapus dengan sendirinya.
3.
Makanan pedas dapat meningkatkan kemampuan
mengingat mimpi, termasuk mimpi buruk.
Makanan pedas dapat menyebabkan anda terbangun di
tengah-tengah tidur. Tentu makanan ini sama sekali tidak berkaitan dengan
proses terjadinya mimpi, namun berkaitan dengan upaya untuk mengingat mimpi.
Untuk bisa mengingat mimpi, anda harus terbangun, setidaknya dalam beberapa
menit (Mahowland). Ketidakmampuan mengingat mimpi pada saat tidur disebabkan
oleh kondisi dimana otak kita tidak mampu mengubah ingatan jangka pendek
menjadi ingatan jangka panjang pada saat tidur (Lisa Medalie, spesialis perilaku
tidur Universitas Chicago). Jadi, jika anda bisa mengingat suatu
mimpi dengan baik, itu berarti ada kondisi dimana anda terbangun beberapa saat
meski tidak sepenuhnya disadari.
4.
Anda mampu mengubah mimpi buruk!
Banyak ahli terapi meyakini bahwa sangatlah mungkin “menulis
ulang skenario” mimpi. Sebagai contoh, Orang yang menderita gangguan
stress pasca trauma bisa melatih diri sendiri untuk mengetahui kapan
mereka berada dalam kondisi mimpi (Ursula Voss, profesor psikologi Universitas
Frankfurt). Beberapa pasiennya berhasil membuktikan teorinya tersebut. Mereka
menggunakan gelang pada saat hendak tidur. Jika kemudian mereka berada dalam
sebuah situasi dimana gelang tersebut tidak berada di tangan mereka, mereka
tahu itu adalah mimpi. Mereka kemudian mencari “sesuatu yang janggal dan
mengerikan” di dalam mimpi mereka, lalu mencoba mengubah skenario mimpi
tersebut.
Shelby Harris, direktur pengobatan perilaku tidur di Pusat
Pengobatan Montefiore, NY, menggunakan “terapi latihan tamsil (imagery)” di
dalam prakteknya. Dia mendorong pasiennya untuk membayangkan sebuah skenario
baru saat mimpi buruk terjadi. Seorang pasiennya terus-menerus bermimpi
dikelilingi oleh hiu di tengah lautan dan hampir tenggelam. Dia kemudian
berhasil mengubah kumpulan hiu tersebut menjadi lumba-lumba.
5.
Otak terus bekerja keras saat anda tidur dan
bermimpi
Kondisi tidur REM bukanlah saat dimana otak beristirahat.
Otak dirangsang untuk bekerja hingga tingkat tertinggi pada saat bermimpi.
Rangsangan itulah yang menghasilkan perumpamaan atau tamsil mimpi. Kemudian,
otak bertugas memahami apa yang sedang dilihat di dalam mimpi tersebut. Ketika
kita terbangun, kita melihat tampilan dunia nyata, sedangkan saat kita tidur, kita
melihat tampilan mimpi. Di sinilah, otak berusaha memahami tampilan acak dari
penglihatan, suara, dan ide-ide yang tersampaikan. Otak kemudian membangun
mimpi ini keluar dari tamsil, seolah seperti dunia nyata. Namun demikian,
ketika kita terbangun, otak kembali menerima tampilan dunia nyata apa adanya
(Mahowland). Kondisi dimana otak tidak bisa “kembali ke dunia nyata” kemudian
bisa menyebabkan berbagai gangguan mental dan bisa berimbas ke fisik.
6.
Sulit untuk bisa memisahkan fungsi tidur dan
fungsi mimpi
Fungsi tidur adalah untuk menurunkan prioritas kerja pada
pada otak sehingga otak siap dan mampu untuk mempelajari lebih banyak hal lagi
keesokan harinya. Menurut Mahowland, mimpi adalah sesuatu harus diciptakan oleh
otak dalam proses penyeimbangan (re-ekuilibrium). Jika anda memulai dengan 100
poin sinapsis dan kemudian berkembang menjadi 125 poin, anda perlu
menurunkan hingga kembali ke 100 poin, jika tidak, hari berikutnya poin
sinapsis tersebut akan bertambah lagi. Pada titik tertentu, proses ini
tidak mampu berkelanjutan lagi sebab terlalu banyak poin sinapsis yang harus
diturunkan. (Mahowland)
7.
Mimpi dapat membantu mengolah dan memperkuat
ingatan.
Dalam sebuah penelitian mengenai mimpi, para peneliti
Harvard meminta para subyek studi untuk melalui labirin 3 dimensi. Kemudian,
mereka diminta tidur selama 90 menit atau tetap bangun dan tenang. Orang-orang
yang memilih tidur dan bermimpi mengenai pengalaman yang sama menyatakan bahwa
mereka mampu melalui labirin tersebut dengan lebih baik lagi pada kesempatan
kedua.
Pendapat saya tentang artikel ini:
Setiap manusia pasti pernah bermimpi, artikel ini memberikan saya pengetahuan yang lebih tentang mimpi. Mungkin ada beberapa hal yang sulit dijelaskan tentang mimpi ini tetapi dalam artikel ini cukup untuk memberikan informasi yang cukup memuaskan.
(sumber: http://www.kolomsehat.com/10-fakta-mengenai-mimpi-yang-patut-diketahui/)

Komentar
Posting Komentar